Teori Belajar Kognitif Dalam Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan Kontekstual
Teori Belajar Kognitif Dalam Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan Kontekstual - Psikologi sebagaimana orang telah mengenalnya, sebenarnya bersandar pada konsepsi tertentu sifat dasar manusia. nah kalo kita cari makalah teori kognitif maka akan banyak sekali pembahasan mengenai teori ini.
Dalam Teori kognitif psikologi banyak menjelaskan tentang hakikat manusia dalam hidup dan kehidupannya. Nah sesuai dengan konsep di atas dan menjawab beberapa pertanyaan tentang teori kognitif makan referensi.com akan membahasnya secara lengkap berikut ini :
Mulai dari pandangan-pandangan yang bersifat introspektif filsafati yang banyak dikembangkan di masa lalu sebelum pengetahuan yang bersifat ilmiah-empiris lahir, hingga berkembang menjadi beragam pertanyaan tentang teori kognitif yang bersifat empiris. Baik pandangan tersebut mengarah kepada situational centered atau situational oriented, seperti tergambar dalam banyak penganut teori behavioristik maupun yang bersifat person oriented, tokoh teori kognitif. Semua itu digali dan kemudian dikembangkan oleh para ahli bidang-bidang psikologi pada umumnya.
Manusia menurut visi beberapa teori di atas berbeda satu sama lain, bahkan ada yang tampak saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka ada yang tampak saling menjatuhkan, meskipun apabila disadari secara bijak, tidak ada satu teori pun yang benar-benar ingin atau bertujuan merobohkan teori lainnya.
Hakikat adanya teori °sebenamya saling melengkapi satu sama lain. Hal ini demikian karena tidak ada satu buah teori yang bisa bedaku umum di semua situasi, kondisi, dan semua bidang masalah. Teori yang satu lebih cocok dan sesuai untuk diterapkan dalam bidang permasalahan tertentu, sedangkan teori lainnya lebih cocok untuk aplikasi bidang tertentu lainnya.
Sebelum sampai kepada bahasan pokok, kita perlu paham lebih dahulu akan konsep dasamya, bahwa manusia secara psikologis bisa dianggap sebagai makhluk yang memiliki ciri sebagai berikut.
Jelasnya hal ini merupakan pandangan aktualisasi diIi. Juga pandangan-pandangan humanisme psikedelik dan apersepsi yang dikembangkan oleh Herbart seperti di bagian lalu sudah dibicarakan. Pandangan-pandangan ini mengarah kepada perbuatan-perbuatan manusia yang bisa diterka melalui teori introspeksi.
Dengan merenung dan mengamati pola kerja dan pola pikir yang ada pada diri sendiri, kemudian direfleksikan untuk kejelasan-kejelasan sebuah gagasan, termasuk untuk menjelaskan tentang manusia lainnya dalam perilaku kehidupannya.
Jadi, perubahan perilaku yang terjadi pada manusia sebenamya merupakan adanya hubungan yang lancar antara stimulus dan respons (S-R bond). Konsep ini diawali oleh Pavlov; dan teorinya dikenal dengan behaviorisme Pavlovian, yang tampak dalam cabang dan pengembangannya seperti koneksionisme, pembiasaan klasik, dan pembiasaan berinstrumen. Untuk konsep ini pandangan filsafatnya adalah realisme saintifik atau empirikisme logis.
Pandangan ini dikenal dengan kognitif; dan teorinya disebut dengan psikologi kognitif. Pandangan filsafatnya adalah pragmatisme atau relativisme ruang kognitif (Bigge, 1984).
Sebenamya teori belajar kognitif, baik empirikisme logis maupun relativisme positif, keduanya bersifat empirikistis, karena mereka berpusat pada pengetahuan yang diperoleh dari atau melalui pengalaman. Namun, untuk relativisme positif berkenaan dengan empirikisme psikologis.
Pengalaman manusia tumbuh dan berkembang keluar mengikuti kemauan-kemauannya. Disebut juga dengan empirikisme ruang kognitif karena ia berpandangan pragmatis Vang diterapkan oleh psikologi bidang kognitif.
Apabila dilihat secara umum teori kognitif piaget mengenai pandangan psikologi, khususnya dalam melihat pola perubahan perilaku manusia, setidaknya ada sepuluh yang sempat direkam oleh Bigge (1984). Urutan-urutannya dimulai dari yang pertama dikenal.
Empat buah yang pertama merupakan rumpun disiplin mental, meliputi’ psikologi kecakapan, humanisme klasik, humanisme psikedelik atau naturalisme romantik, dan strukturalisme (herbartianisme). Sedangkan yang tiga berikutnya tergolong ke dalam rumpun atau keluarga behaviorisme yang meliputi koneksionisme, pembiasaan ldasik, dan pembiasaan berinstrumen.
Tiga pola perubahan perilaku manusia yang terakhir adalah mereka yang tergolong kepada keluarga teori kognitif dari psikologi gestalt, meliputi psikologi gestalt, konvigurasionalisme, dan psikologi ruang atau relativisme positif.
Kesepuluh teori belajar tersebut secara umum dibahas dalam buku ini, enam teori pertama sudah diuraikan pada bagian yang lalu. Sedangkan empat: teori sedang kita bicarakan pada bab ini.
Karena perilaku manusia teori perkembangan kognitif tidak lagi dianggap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya secara pasif, justru dalam banyak hal, kondisi lingkungan itulah yang banyak dibentuk oleh manusia, masalahnya adalah pada dasar yang menyebabkan terjadinya keinginan untuk membentuk lingkungan tadi.
Dari sana maka perhatian teori belajar kognitif banyak diarahkan kepada akal budi manusia atau otak manusia sebagai sentral sumber kemauan itu sendiri. Psikologi kognitif memang beranggapan bahwa manusia itu selalu berusaha untuk memahami lingkungannya, mengerli akan lingkungannya.
Hal ini sejalan dengan kata asalnya cognitive yang berarti mengetahui. Dari bahasa Latin, cognoscere, yang dalam bahasa Inggris sama dengan to know, artinya dalam bahasa Indonesia adalah mengetahui (Bigge, 1984), yang berusaha mengetahui ialah manusia, melalui idenya di dalam otak. Segala pusat pemikiran dan kemauan manusia serta kegiatannya berpusat di otak.
Dalam keadaan yang susunannya sangat kompleks ini, sebenarnya otak terbagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, masing-masing bagian mempunyai tugas dan fungsinya sendiri yang tentu saja berbeda satu sama lainnya.
Ada pusat bahasa, ada pusat menghitung, dan ada pula yang bertugas sebagai pusat konstruksi ruang. Apabila dianalogikan, kira-kira sama dengan cara bekerjanya komputer, meskipun jika dibandingkan komputer kalah canggih dengan komputer otak ciptaan Tuhan.
Komputer buatan manusia hanya bisa berpikir atas dasar programprogram yang ”diotaki” manusia, sedangkan otak manusia tidak, manusia berpikir karena disuruh oleh dirinya sendiri. Ia secara bebas melakukan kemauannya sendiri.
Dengan demikian, titik pangkal perubahan perilaku yang tetjadi pada manusia adalah pada ide dan kemauannya dalam otak. Berpikir adalah segalanya dalam psikologi kognitif.
Memang banyak teori tentang perubahan perilaku ini, bahkan masih dalam pandangan psikologi kognitif sekalipun. Salah satu teori perubahan perilaku tersebut adalah teori belajar, tentunya teori belajar kognitif.
Diambil dari teori belajar karena orang pada dasarnya selama hidupnya selalu melakukan perubahan. Perubahan yang terjadi pada manusia atas dasar kemauan dalam pola berpikimya, dan perubahan ini terjadi secara terus-menerus, relatif permanen, serta bukan perubahan yang terjadi akibat dari warisan genetik karena kebetulan atau tidak disengaja.
Berubah karena menjadi tua secara genetik bukanlah termasuk ke dalam konsep belajar ini, juga perubahan karena menjadi gila atau hilang ingatan, atau cacat fisik. Di sini yang dimaksud-kan dengan belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri manusia karena hasil interaksinya dengan lingkungan, berubahnya struktur pengalamannya, dan karena berubahnya ruang pengalamannya. Namun, tetap berprinsip berubah menuju ke arah yang lebih berkualitas atau lebih baik dari sebelumnya.
Teori belajar kognitif berasal dari pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang Jerman yang kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat. Ia banyak membicarakan masalah persepsi dan motivasi. Oleh karena itu, teorinya pun tidak jauh dari masalah tersebut (Smith, 2001; http: www.infed.org/ thinkers et-lewin.htm).
Tesis dasar dari psikologi kognitif adalah berpikir secara sadar. Sesuai dengan tingkat perkembangan dan pemahamannya, manusia tahu betul bagaimana ia bertindak, untuk apa dan bagaimana ia berpikir.
Bagaimana manusia memahami dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan menggunakan kognisinya, manusia berbuat atas dasar kemauan dan ide yang dimilikinya, dan ia berbuat untuk mengubah lingkungannya sesuai dengan kemauannya. Dengan demikian, pusat tindakan menurut teori ini adalah Dada ide itu sendiri -pada otakyang merupakan pusat aktivitas psikologis Dada manusia.
Para psikolog yang berorientasi kognitif banyak menggunakan konsep bidang atau ruang guna memahami dunia psikologis secara keseluruhan pada manusia hidup, di suatu tempat, pada suatu saat.
Teori Belajar Kognitif Dalam Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan Kontekstual Termasuk di sini adalah dunia psikologis masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, juga termasuk kenyataan-kenyataan imajinatif. Kenyataan imajinatif di sini adalah dunia yang ada, akan ada, atau mungkin ada dalam khayalan atau angan-angan.
Dalam Teori kognitif psikologi banyak menjelaskan tentang hakikat manusia dalam hidup dan kehidupannya. Nah sesuai dengan konsep di atas dan menjawab beberapa pertanyaan tentang teori kognitif makan referensi.com akan membahasnya secara lengkap berikut ini :
![]() |
| teori kognitif |
Kelebihan dan kekurangan teori kognitif
Oleh karena itu, psikologi banyak kaitannya dengan filsafat tentang manusia. Keberadaan manusia dipandang dari segi fisik, mental, atau dari segi keduanya sekaligus. Atau mungkin juga dari segi-segi yang lain, misalnya manusia adalah hewan dengan ciri-ciri tertentu, contoh teori kognitif manusia adalah makhluk yang unik, dan lain-lain. Pokoknya banyak teori tentang manusia yang hingga kini masih terus berlangsung.Mulai dari pandangan-pandangan yang bersifat introspektif filsafati yang banyak dikembangkan di masa lalu sebelum pengetahuan yang bersifat ilmiah-empiris lahir, hingga berkembang menjadi beragam pertanyaan tentang teori kognitif yang bersifat empiris. Baik pandangan tersebut mengarah kepada situational centered atau situational oriented, seperti tergambar dalam banyak penganut teori behavioristik maupun yang bersifat person oriented, tokoh teori kognitif. Semua itu digali dan kemudian dikembangkan oleh para ahli bidang-bidang psikologi pada umumnya.
Penerapan teori kognitif dalam pembelajaran
Tulisan ini tentu saja tidak akan membahas semua pandangan - pandangannya, meskipun yang masih berorientasi kognitif, karena di samping terlalu banyak, kami sengaja membatasinya agar tulisan ini lebih bersifat khusus dan sesuai dengan penerapan pada teori dalam teori kognitif keadaan yang dipengaruhi oleh bagian otak sebelah kanan adalahbelajar di dunia instruksional, sosial, serta komunikasi informasi clan sosial. Beberapa ahli Yang mengembangkan teori ini, seperti Kurt Lewin, EC. Tolman, John Dewey, dan beberapa orang lainnya, banyak digunakan konsepkonsepnya Sebagai bahan penjelasan.PSIKOLOGI KOGNITIF
Psikologi kognitif mempakan rival atau setidaknya tidak sebagai yang tidak sama pandangan-pandangannya dengan konsep psikologi behavioristik, konsep introspektif, atau teori nonempiris lainnya (Bigge, 1984; Littlejohn, 1988: 68-94).Manusia menurut visi beberapa teori di atas berbeda satu sama lain, bahkan ada yang tampak saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka ada yang tampak saling menjatuhkan, meskipun apabila disadari secara bijak, tidak ada satu teori pun yang benar-benar ingin atau bertujuan merobohkan teori lainnya.
Hakikat adanya teori °sebenamya saling melengkapi satu sama lain. Hal ini demikian karena tidak ada satu buah teori yang bisa bedaku umum di semua situasi, kondisi, dan semua bidang masalah. Teori yang satu lebih cocok dan sesuai untuk diterapkan dalam bidang permasalahan tertentu, sedangkan teori lainnya lebih cocok untuk aplikasi bidang tertentu lainnya.
Sebelum sampai kepada bahasan pokok, kita perlu paham lebih dahulu akan konsep dasamya, bahwa manusia secara psikologis bisa dianggap sebagai makhluk yang memiliki ciri sebagai berikut.
Manusia Mempunyai lusting dan Kebutuhan
Pandangan ini mendasari banyak teori tentang konsep manusia itu sendiri sebagai makhluk yang berinteraksi dengan lingkungannya. Karena dasamya insting dan kebutuhan maka segala hal yang bergerak atau digerakkan oleh kedua dasar itulah yang akan menjadi kenyataannya. Orang melakukan sesuatu atas dasar insting, atau atas dasar kebutuhan untuk memenuhinya.Jelasnya hal ini merupakan pandangan aktualisasi diIi. Juga pandangan-pandangan humanisme psikedelik dan apersepsi yang dikembangkan oleh Herbart seperti di bagian lalu sudah dibicarakan. Pandangan-pandangan ini mengarah kepada perbuatan-perbuatan manusia yang bisa diterka melalui teori introspeksi.
Dengan merenung dan mengamati pola kerja dan pola pikir yang ada pada diri sendiri, kemudian direfleksikan untuk kejelasan-kejelasan sebuah gagasan, termasuk untuk menjelaskan tentang manusia lainnya dalam perilaku kehidupannya.
Manusia Dianggap sebagai Organisme yang Pasif-Reaktif Terhadap Lingkungannya
Segala perilaku kehidupannya banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya. Orang berbuat itu sebenarnya ia sedang bereaksi terhadap suatu stimulus yang datang dari luar.Jadi, perubahan perilaku yang terjadi pada manusia sebenamya merupakan adanya hubungan yang lancar antara stimulus dan respons (S-R bond). Konsep ini diawali oleh Pavlov; dan teorinya dikenal dengan behaviorisme Pavlovian, yang tampak dalam cabang dan pengembangannya seperti koneksionisme, pembiasaan klasik, dan pembiasaan berinstrumen. Untuk konsep ini pandangan filsafatnya adalah realisme saintifik atau empirikisme logis.
Manusia Mempunyai Kemauan Berinteraksi dengan Lingkunganv nya Secara Aktif
Manusia tidak dianggap sebagai makhluk yang secara utuh dipengaruhi oleh lingkungannya, tetapi justru manusia berusaha untuk membentuk lingkungannya sesuai dengan kemauannya dan seleranya. Manusia berusaha untuk memahami lingkungannya, karena itu manusia berpikir (homo sapiens).Pandangan ini dikenal dengan kognitif; dan teorinya disebut dengan psikologi kognitif. Pandangan filsafatnya adalah pragmatisme atau relativisme ruang kognitif (Bigge, 1984).
Sebenamya teori belajar kognitif, baik empirikisme logis maupun relativisme positif, keduanya bersifat empirikistis, karena mereka berpusat pada pengetahuan yang diperoleh dari atau melalui pengalaman. Namun, untuk relativisme positif berkenaan dengan empirikisme psikologis.
Pengalaman manusia tumbuh dan berkembang keluar mengikuti kemauan-kemauannya. Disebut juga dengan empirikisme ruang kognitif karena ia berpandangan pragmatis Vang diterapkan oleh psikologi bidang kognitif.
Apabila dilihat secara umum teori kognitif piaget mengenai pandangan psikologi, khususnya dalam melihat pola perubahan perilaku manusia, setidaknya ada sepuluh yang sempat direkam oleh Bigge (1984). Urutan-urutannya dimulai dari yang pertama dikenal.
Empat buah yang pertama merupakan rumpun disiplin mental, meliputi’ psikologi kecakapan, humanisme klasik, humanisme psikedelik atau naturalisme romantik, dan strukturalisme (herbartianisme). Sedangkan yang tiga berikutnya tergolong ke dalam rumpun atau keluarga behaviorisme yang meliputi koneksionisme, pembiasaan ldasik, dan pembiasaan berinstrumen.
Tiga pola perubahan perilaku manusia yang terakhir adalah mereka yang tergolong kepada keluarga teori kognitif dari psikologi gestalt, meliputi psikologi gestalt, konvigurasionalisme, dan psikologi ruang atau relativisme positif.
Kesepuluh teori belajar tersebut secara umum dibahas dalam buku ini, enam teori pertama sudah diuraikan pada bagian yang lalu. Sedangkan empat: teori sedang kita bicarakan pada bab ini.
Karena perilaku manusia teori perkembangan kognitif tidak lagi dianggap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya secara pasif, justru dalam banyak hal, kondisi lingkungan itulah yang banyak dibentuk oleh manusia, masalahnya adalah pada dasar yang menyebabkan terjadinya keinginan untuk membentuk lingkungan tadi.
Dari sana maka perhatian teori belajar kognitif banyak diarahkan kepada akal budi manusia atau otak manusia sebagai sentral sumber kemauan itu sendiri. Psikologi kognitif memang beranggapan bahwa manusia itu selalu berusaha untuk memahami lingkungannya, mengerli akan lingkungannya.
Hal ini sejalan dengan kata asalnya cognitive yang berarti mengetahui. Dari bahasa Latin, cognoscere, yang dalam bahasa Inggris sama dengan to know, artinya dalam bahasa Indonesia adalah mengetahui (Bigge, 1984), yang berusaha mengetahui ialah manusia, melalui idenya di dalam otak. Segala pusat pemikiran dan kemauan manusia serta kegiatannya berpusat di otak.
Struktur kognitif manusia juga ada di dalam otak.
Secara anatomis teori disonansi kognitif, otak manusia mempunyai kurang lebih sepuluh miliar sel saraf, dan sembilan puluh persen dari sel saraf yang ada pada seluruh tubuh manusia (Irwanto dkk., 1989). Bisa dibayangkan betapa Pentingnya kedudukan otak manusia dalam kontcks dualisme manusia sebagai benda fisik dan zat mental. Psikologi kognitif ini pun banyak membahas masalah struktur kognitif yang ada di dalam otak ini.Dalam keadaan yang susunannya sangat kompleks ini, sebenarnya otak terbagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, masing-masing bagian mempunyai tugas dan fungsinya sendiri yang tentu saja berbeda satu sama lainnya.
Ada pusat bahasa, ada pusat menghitung, dan ada pula yang bertugas sebagai pusat konstruksi ruang. Apabila dianalogikan, kira-kira sama dengan cara bekerjanya komputer, meskipun jika dibandingkan komputer kalah canggih dengan komputer otak ciptaan Tuhan.
Komputer buatan manusia hanya bisa berpikir atas dasar programprogram yang ”diotaki” manusia, sedangkan otak manusia tidak, manusia berpikir karena disuruh oleh dirinya sendiri. Ia secara bebas melakukan kemauannya sendiri.
Dengan demikian, titik pangkal perubahan perilaku yang tetjadi pada manusia adalah pada ide dan kemauannya dalam otak. Berpikir adalah segalanya dalam psikologi kognitif.
Memang banyak teori tentang perubahan perilaku ini, bahkan masih dalam pandangan psikologi kognitif sekalipun. Salah satu teori perubahan perilaku tersebut adalah teori belajar, tentunya teori belajar kognitif.
Diambil dari teori belajar karena orang pada dasarnya selama hidupnya selalu melakukan perubahan. Perubahan yang terjadi pada manusia atas dasar kemauan dalam pola berpikimya, dan perubahan ini terjadi secara terus-menerus, relatif permanen, serta bukan perubahan yang terjadi akibat dari warisan genetik karena kebetulan atau tidak disengaja.
Berubah karena menjadi tua secara genetik bukanlah termasuk ke dalam konsep belajar ini, juga perubahan karena menjadi gila atau hilang ingatan, atau cacat fisik. Di sini yang dimaksud-kan dengan belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri manusia karena hasil interaksinya dengan lingkungan, berubahnya struktur pengalamannya, dan karena berubahnya ruang pengalamannya. Namun, tetap berprinsip berubah menuju ke arah yang lebih berkualitas atau lebih baik dari sebelumnya.
Teori belajar kognitif berasal dari pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang Jerman yang kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat. Ia banyak membicarakan masalah persepsi dan motivasi. Oleh karena itu, teorinya pun tidak jauh dari masalah tersebut (Smith, 2001; http: www.infed.org/ thinkers et-lewin.htm).
Tesis dasar dari psikologi kognitif adalah berpikir secara sadar. Sesuai dengan tingkat perkembangan dan pemahamannya, manusia tahu betul bagaimana ia bertindak, untuk apa dan bagaimana ia berpikir.
Bagaimana manusia memahami dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan menggunakan kognisinya, manusia berbuat atas dasar kemauan dan ide yang dimilikinya, dan ia berbuat untuk mengubah lingkungannya sesuai dengan kemauannya. Dengan demikian, pusat tindakan menurut teori ini adalah Dada ide itu sendiri -pada otakyang merupakan pusat aktivitas psikologis Dada manusia.
Para psikolog yang berorientasi kognitif banyak menggunakan konsep bidang atau ruang guna memahami dunia psikologis secara keseluruhan pada manusia hidup, di suatu tempat, pada suatu saat.
Teori Belajar Kognitif Dalam Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan Kontekstual Termasuk di sini adalah dunia psikologis masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, juga termasuk kenyataan-kenyataan imajinatif. Kenyataan imajinatif di sini adalah dunia yang ada, akan ada, atau mungkin ada dalam khayalan atau angan-angan.
#ref-menu