Sejarah Psikologi : Monisme dalam Psikologi, Spiritualisme
monisme dalam psikologi dapat tumbuh dari masalah yang diangkat oleh dualisme atau dapat tumbuh dari awal perlakuan terhadap fenomena psikis dan fisik. Dalam kasus yang pertama, titik keberangkatannya adalah masalah hubungan timbal balik antara tubuh dan pikiran; dan dalam kasus kedua, karakteristik umum antara fenomena fisik dan mental yang menjadi titik awal.
Pada umumnya, upaya untuk mengidentifikasi jiwa, yang dapat dilihat sebagai realitas independen dengan fisik, menyebabkan keunggulan yang pertama, dengan demikian merupakan psikologi spiritualistik.
Oleh karena itu dalam sejarah psikologi spiritulistik terdapat kecenderungan untuk mengikuti dualisme, sedangkan psikologi materialistik tumbuh dari ilmu alam ketika dijalankan secara independen berdasarkan asumsi dan pengaruh metafisik.
Tapi hubungan ini kadang-kadang terbalik, dengan hasil bahwa orang menemukan kecenderungan yang sangat beragam ketika dikombinasikan dalam bentuk psikologi spiritualistik tertentu atau psikologi materialistik. Di Antara dua jenis itu ada monisme murni, seperti yang ditemukan dalam Spinoza misalnya, yang berkoordinasi sepenuhnya dalam aspek realitas fisik dan psikis.
Namun karena teori ini gagal untuk menjelaskan hubungan empiris yang ada di antara isi kesadaran, ia hampir tidak dapat dikatakan sebagai cabang yang terpisah dari psikologi metafisik, meskipun ia berusaha untuk membebaskan diri dari sistem psikologi empiris yang bertentangan, dan dengan demikian membawanya ke sebuah kesimpulan yang pasti.
Dalam ilmu psikologi itu sendiri, prinsip tersebut disebut paralelisme psikofisik yang telah direduksi menjadi sebuah prinsip heuristik, sebuah proses yang telah diulang dalam kasus prinsip metafisik dari sejumlah ilmu lainnya, prinsip finalisme misalnya, dalam biologi.
Sejumlah ciri spiritualistik ditemukan pada awal sejarah psikologi seperti Anaxagoras, yang menggambarkan roh sebagai sesuatu yang sederhana dan tidak bercampur; tapi definisinya tidak bebas dari implikasi materialistik.
Aristoteles (884-322), pemikir tersebut mungkin mengatakan bahwa psikologi pada mulanya adalah ilmu mandiri dengan batas-batas yang pasti, sehingga kata ajaib yang mengekspresikan sifat jiwa benar-benar tidak dapat dijelaskan.
Jiwa adalah bagi tubuh, dan bentuk adalah bagi materi; itulah yang membuat tubuh menjadi makhluk hidup. dan yang melalui aktivitasnya melengkapi tubuh, dengan memimpin kepada tujuan yang sebenarnya. lnilah arti penting tentang definisi jiwa sebagai entelechy tubuh yang hidup. Dalam konsepsi ini, jiwa mengandung sugesti.awal dimana psikologi belum lahir sampai waktu itu.
Meskipun ada upaya yang diulang pada bagian tentang Neo-Platonisme untuk membangun psikologi monistik, Spiritualisme tetap menjadi jenis bawahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Spiritualisme dihidupkan kembali dalam sistem metafisik filsafat modern, yang mencapai perkembangan tertinggi dalam Leibniz (1646-1716) dari Aristoteles, karena ia telah menyebutnya sebagai zaman modern. Psikologi Leibniz didasarkan pada doktrin monad, sebuah konsepsi yang sepenuhnya bersifat metafisik.
Jika jiwa merupakan satu-satunya bagian dari realitas yang kita telah mengetahuinya, kita harus menafsirkan realitas lainnya berdasarkan analogi yang berkaitan dengannya. Semua realitas, oleh karena itu memiliki karakter psikis.
Ia terdiri dari monad dari berbagai tingkat perkembangan yang disusun dalam hirarki yang urutannya ditentukan oleh kelas tertentu dalam perkembangan yang dicapai oleh monad yang menyusunnya.
Di bidang yang paling rendah ditemukan monad yang sederhana, yang kondisi psikisnya menyerupai kondisi kita sendiri dalam keadaan mengantuk atau pingsan. Jiwa hewan dikarunai dengan memori.
Jiwa manusia akhirnya berpar’tisipasi dalam bentuk pengalaman tertinggi melalui pengetahuan tentang kebenaran yang diperlukan. Karena semua nilai kesadaran yang direpresentasikan dalam monad merupakan jiwa manusia, konsepsi metafisik yang bersangkutan, meskipun membatasi diri dalam pengalaman kognitif, bukan tanpa signifikansi bagi interpretasi data empiris tentang kesadaran.
Bentuk paling mumi dalam spiritualisme yang pernah dicapai, yakni dari Berkeley (1685-1753), muncul dari pendahulunya yang berbeda. Titik awal dari sistem Berkeley, memang benar merupakan psikologi empiris Locke, karena ia menandai semua pengalaman sebagai bentuk pengamatan diri.
Tapi interpretasinya tentang indra persepsi sebagai bentuk terendah dalam observasi diri sudah membawanya di luar batas pengalaman. Setelah benar-benar menggeluti metafisika, Berkeley tidak menemukan apa-apa selain jiwa dan pengalamannya.
Jiwa adalah sederhana, tak terpisahkan, substansi aktif yang memiliki kapasitas untuk melihat ide, yang disebut kecerdasan; memi‘liki kemampuan untuk menghasilkan kehendak.
Keistimewaan subjek pengalaman batin ditunjukkan oleh observasi bahwa kita hanya dapat membentuk sebuah konsep, bukan ide, dari roh. Namun demikian, definisi roh yang dikemukakan di sini membawa kita jauh melampaui batas-batas ilmu pengetahuan ke dalam metafisika.
Psikologi spiritualistik yang berkembang sendiri berdasarkan ide-ide Leibniz cenderung selalu terjerumus ke dalam dualisme vulgar. Setelah Kant menyelidiki serangan kematian bagi spesies psikologi ini, serta jenis yang lebih tradisional dalam rasionalisme, psikologi melewati kekuasaan filsafat Romantis.
Bentuk yang berkaitan dengan spiritualisme ditemukan di Perancis setelah Revolusi. Cabanis (1757-1808) sesungguhnya berusaha untuk menjelaskan hubungan antara proses fisiologis dan psikologis dalam karya utamanya.
Sangat berbeda dengan sensualisme dari jenis yang ditemukan dalam Condillac yang dapat ditemui dalam karya Maine de Biran (1766-1824), yang telah melakukan banyak ha] bagi kebangkitan psikologi di Perancis.
Dalam karyanya Essai sur les fondements de la psychologic ia juga menentang sudut pandang tersebut berdasarkan metafisika yang mempedakukan jiwa sebagai makhluk absolut dan bahwa para penganut empiris mumi yang mengakui kehidupan mental hanya merupakan sensasi dan berbagai hubungan di antara berbagai sensasi.
Refleksi terhadap kehidupan batin kita memaksa kita untuk mengenali konasi atau usaha yang disengaja sebagai fakta utama dalam kesadaran. Kehendak dan penolakan adalah pengalaman yang tak terpisahkan: melalui perIawananlah maka diri menyadari bahwa ia memiliki keterbatasan.
Deduksi lain dari Mame de Biran mengingatkan salah satu interpretasi tentang kesadaran dalam Romantisisme Jerman. Sebuah Doktn'n yang sangat khas adalah doktrin mengenai ruang batin. lnilah tempat keberadaan ego yang dibentuk oleh berbagai titik pedawanan dimana kehendak bertemu dalam berbagai organ.
Tradisi Leibnizian dilanjutkan oleh Herbart (1776-1831), yang mengakui dirinya sebagai prekursor Leibniz. Herbart juga tidak dibebaskan dari Pengaruh dialektika Romantisisme sejauh masalah psikologi muncul hanya sebagai akibat dari kontradiksi yang terkandung dalam konsep roh.
![]() |
| Sejarah Psikologi : Monisme dalam Psikologi, Spiritualisme |
Pada umumnya, upaya untuk mengidentifikasi jiwa, yang dapat dilihat sebagai realitas independen dengan fisik, menyebabkan keunggulan yang pertama, dengan demikian merupakan psikologi spiritualistik.
Contoh monisme dalam kehidupan sehari hari
Di sisi lain, identifikasi proses fisik dan proses psikis cenderung membuat dunia fisik muncul sebagai dunia nyata, dan hasilnya adalah psikologi materialistis.Oleh karena itu dalam sejarah psikologi spiritulistik terdapat kecenderungan untuk mengikuti dualisme, sedangkan psikologi materialistik tumbuh dari ilmu alam ketika dijalankan secara independen berdasarkan asumsi dan pengaruh metafisik.
Tapi hubungan ini kadang-kadang terbalik, dengan hasil bahwa orang menemukan kecenderungan yang sangat beragam ketika dikombinasikan dalam bentuk psikologi spiritualistik tertentu atau psikologi materialistik. Di Antara dua jenis itu ada monisme murni, seperti yang ditemukan dalam Spinoza misalnya, yang berkoordinasi sepenuhnya dalam aspek realitas fisik dan psikis.
Namun karena teori ini gagal untuk menjelaskan hubungan empiris yang ada di antara isi kesadaran, ia hampir tidak dapat dikatakan sebagai cabang yang terpisah dari psikologi metafisik, meskipun ia berusaha untuk membebaskan diri dari sistem psikologi empiris yang bertentangan, dan dengan demikian membawanya ke sebuah kesimpulan yang pasti.
Dalam ilmu psikologi itu sendiri, prinsip tersebut disebut paralelisme psikofisik yang telah direduksi menjadi sebuah prinsip heuristik, sebuah proses yang telah diulang dalam kasus prinsip metafisik dari sejumlah ilmu lainnya, prinsip finalisme misalnya, dalam biologi.
SPIRITUALISME
Spiritualisme dalam psikologi adalah hasil dari pengembangan secara bertahap konsep tentang roh dan penajaman yang kontras antara roh dan materi.Sejumlah ciri spiritualistik ditemukan pada awal sejarah psikologi seperti Anaxagoras, yang menggambarkan roh sebagai sesuatu yang sederhana dan tidak bercampur; tapi definisinya tidak bebas dari implikasi materialistik.
Aristoteles (884-322), pemikir tersebut mungkin mengatakan bahwa psikologi pada mulanya adalah ilmu mandiri dengan batas-batas yang pasti, sehingga kata ajaib yang mengekspresikan sifat jiwa benar-benar tidak dapat dijelaskan.
Jiwa adalah bagi tubuh, dan bentuk adalah bagi materi; itulah yang membuat tubuh menjadi makhluk hidup. dan yang melalui aktivitasnya melengkapi tubuh, dengan memimpin kepada tujuan yang sebenarnya. lnilah arti penting tentang definisi jiwa sebagai entelechy tubuh yang hidup. Dalam konsepsi ini, jiwa mengandung sugesti.awal dimana psikologi belum lahir sampai waktu itu.
Spiritualisme filsafat
Dalam psikologi Aristoteles, jiwa tidak lagi merupakan substansi, tetapi merupakan sebuah kegiatan, sebuah prinsip formatif. Konsepsi yang paling penting tentang psikologi spiritualistik muncul di sini dalam ekspresi yang paling utuh, meskipun Aristoteles, yang dipengaruhi oleh metafisiknya, sekali lagi terperangkap dalam dualisme.Meskipun ada upaya yang diulang pada bagian tentang Neo-Platonisme untuk membangun psikologi monistik, Spiritualisme tetap menjadi jenis bawahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Spiritualisme dihidupkan kembali dalam sistem metafisik filsafat modern, yang mencapai perkembangan tertinggi dalam Leibniz (1646-1716) dari Aristoteles, karena ia telah menyebutnya sebagai zaman modern. Psikologi Leibniz didasarkan pada doktrin monad, sebuah konsepsi yang sepenuhnya bersifat metafisik.
Jika jiwa merupakan satu-satunya bagian dari realitas yang kita telah mengetahuinya, kita harus menafsirkan realitas lainnya berdasarkan analogi yang berkaitan dengannya. Semua realitas, oleh karena itu memiliki karakter psikis.
Ia terdiri dari monad dari berbagai tingkat perkembangan yang disusun dalam hirarki yang urutannya ditentukan oleh kelas tertentu dalam perkembangan yang dicapai oleh monad yang menyusunnya.
Di bidang yang paling rendah ditemukan monad yang sederhana, yang kondisi psikisnya menyerupai kondisi kita sendiri dalam keadaan mengantuk atau pingsan. Jiwa hewan dikarunai dengan memori.
Jiwa manusia akhirnya berpar’tisipasi dalam bentuk pengalaman tertinggi melalui pengetahuan tentang kebenaran yang diperlukan. Karena semua nilai kesadaran yang direpresentasikan dalam monad merupakan jiwa manusia, konsepsi metafisik yang bersangkutan, meskipun membatasi diri dalam pengalaman kognitif, bukan tanpa signifikansi bagi interpretasi data empiris tentang kesadaran.
Bentuk paling mumi dalam spiritualisme yang pernah dicapai, yakni dari Berkeley (1685-1753), muncul dari pendahulunya yang berbeda. Titik awal dari sistem Berkeley, memang benar merupakan psikologi empiris Locke, karena ia menandai semua pengalaman sebagai bentuk pengamatan diri.
Tapi interpretasinya tentang indra persepsi sebagai bentuk terendah dalam observasi diri sudah membawanya di luar batas pengalaman. Setelah benar-benar menggeluti metafisika, Berkeley tidak menemukan apa-apa selain jiwa dan pengalamannya.
Jiwa adalah sederhana, tak terpisahkan, substansi aktif yang memiliki kapasitas untuk melihat ide, yang disebut kecerdasan; memi‘liki kemampuan untuk menghasilkan kehendak.
Keistimewaan subjek pengalaman batin ditunjukkan oleh observasi bahwa kita hanya dapat membentuk sebuah konsep, bukan ide, dari roh. Namun demikian, definisi roh yang dikemukakan di sini membawa kita jauh melampaui batas-batas ilmu pengetahuan ke dalam metafisika.
Psikologi spiritualistik yang berkembang sendiri berdasarkan ide-ide Leibniz cenderung selalu terjerumus ke dalam dualisme vulgar. Setelah Kant menyelidiki serangan kematian bagi spesies psikologi ini, serta jenis yang lebih tradisional dalam rasionalisme, psikologi melewati kekuasaan filsafat Romantis.
Bentuk yang berkaitan dengan spiritualisme ditemukan di Perancis setelah Revolusi. Cabanis (1757-1808) sesungguhnya berusaha untuk menjelaskan hubungan antara proses fisiologis dan psikologis dalam karya utamanya.
Sangat berbeda dengan sensualisme dari jenis yang ditemukan dalam Condillac yang dapat ditemui dalam karya Maine de Biran (1766-1824), yang telah melakukan banyak ha] bagi kebangkitan psikologi di Perancis.
Dalam karyanya Essai sur les fondements de la psychologic ia juga menentang sudut pandang tersebut berdasarkan metafisika yang mempedakukan jiwa sebagai makhluk absolut dan bahwa para penganut empiris mumi yang mengakui kehidupan mental hanya merupakan sensasi dan berbagai hubungan di antara berbagai sensasi.
Refleksi terhadap kehidupan batin kita memaksa kita untuk mengenali konasi atau usaha yang disengaja sebagai fakta utama dalam kesadaran. Kehendak dan penolakan adalah pengalaman yang tak terpisahkan: melalui perIawananlah maka diri menyadari bahwa ia memiliki keterbatasan.
Deduksi lain dari Mame de Biran mengingatkan salah satu interpretasi tentang kesadaran dalam Romantisisme Jerman. Sebuah Doktn'n yang sangat khas adalah doktrin mengenai ruang batin. lnilah tempat keberadaan ego yang dibentuk oleh berbagai titik pedawanan dimana kehendak bertemu dalam berbagai organ.
Tradisi Leibnizian dilanjutkan oleh Herbart (1776-1831), yang mengakui dirinya sebagai prekursor Leibniz. Herbart juga tidak dibebaskan dari Pengaruh dialektika Romantisisme sejauh masalah psikologi muncul hanya sebagai akibat dari kontradiksi yang terkandung dalam konsep roh.
Penelusuran yang terkait dengan Monisme dalam Psikologi, Spiritualisme
contoh monisme
dalam kehidupan sehari hari
monisme adalah
dualisme dalam
psikologi
penerapan paham monisme dan
dualisme dalam pendidikan
monisme pdf
pengertian monisme
dalam hukum internasional
teori monisme dan dualisme dalam sistem
hukum internasional pdf
monisme psikis,
interaksionisme dan paralelisme tentang manusia
#ref-menu